Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.
Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.
Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”
“Sejatinya rasa suka tidak perlu DIUMBAR-UMBAR, apalagi kau PAMER-PAMERKAN di hadapan banyak orang. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu."
*Sajak Buat Apa?
Kau tidak perlu memaksakan diri menyukaiku
Buat apa?
Kita hidup dalam dua kehidupan yang berbeda.
Setiap manusia memiliki kehidupan masing-masing
Tidak bertemu di satu titik kehidupan tidak masalah.
Kau sungguh tidak perlu memaksakan diri menyukaiku
Buat apa?
Karena kalaupun kau tidak suka denganku
Itu tidak akan mengurangi sedikitpun rasa suka padamu
Tidak akan mengubah fakta tersebut
Biarlah kutelan dalam diam semua rasa itu
Hingga potongan jawaban misteri terbesarnya tiba
Kau tidak perlu memaksakan diri menyukaiku
Buat apa?
Ini sungguh kisah yang berbeda
Karena bahkan, disampaikan atau tidak disampaikan
Itu tetap sebuah perasaan
Tidak akan berkurang sedikit pun
Jika memang dia sedemikian adanya.
Akan kutunggu dengan cara terbaik
Agar seluruh kisah ini tetap baik
Boleh jadi kita telah kehilangan sesuatu, jauh2 hari sebelum sesuatu itu benar2 pergi, menghilang dari kehidupan kita.
Dan boleh jadi, kitalah yang menyebabkan hilangnya sesuatu itu, karena tidak peduli, tidak merasa penting.
Jika seseorang menyukai dan peduli pada kita, maka apapun yang kita katakan, termasuk saat melakukan kesalahan, dia tetap paham dan menerimanya.
Tapi jika seseorang sudah membenci kita, maka, tidak ada yang bisa kita katakan atau lakukan kemudian membuatnya senang dan sependapat.
Jadi lebih baik, fokus saja pada yang peduli.
*Tere Liye
Tentu saja sering ngintipin timeline, dinding akun orang lain itu tidak selalu otomatis bisa dibilang stalking, kepo. Boleh jadi itu termasuk strategi intelijen demi masa depan. Termasuk setidaknya buat menghibur hati.
Asal jangan berlebihan saja, sampai menyadap HP bapak ibunya, nanti bisa bikin masalah serius antar negara.
Kita bisa hidup bahagia dengan orang yang tidak sempurna, sepanjang kita mau menerima kekurangan dan kelebihannya. Tapi kita tidak akan pernah bisa berbahagia, meskipun punya seseorang yang amat sempurna, tapi kita terus merasa kurang dan kurang.
NasehaCara terbaik menghukum orang adalah diamkan saja, tidak usah dipedulikan lagi. Itu menyakitkan sekali.
Maka, bersyukurlah jika orang masih marah, menegur, menyindir, dsbgnya. Karena sekali kita dianggap angin lalu, kita seperti 'dihapus' dari muka bumi.
t orang tua yang biasanya disampaikan setiap anak2nya mau menikah ini amat lembut.
Tentu berbeda antara menulis doa: "Ya Allah, semoga teman2 baik saya punya mobil mewah dan rumah gedongan." dengan "Ya Allah, semoga saya punya mobil mewah dan rumah gedongan."
Yang satu mendoakan, yang satu berdoa diri sendiri. Yang satu, saat diaminkan begitu banyak orang, menjadi sesuatu. Yang satu lagi, jika berharap diaminkan orang, juga menjadi sesuatu lainnya.
Jika kita memang ingin berdoa di jejaring sosial ini, maka saran baiknya: geser menjadi mendoakan orang lain saja, sementara doa terbaik untuk kita sendiri, simpan saat habis shalat, di malam lengang, di waktu2 spesial dijanjikan.
Nah, terakhir, akan sangat berbeda jika kita malah menulis: "Ya Allah, semoga saya diberi mobil mewah dan rumah gedongan. Tulis amin jika ini doa kalian juga dan jangan lupa di-like."
Sepertinya terasa berbeda sekali di kerongkongan. Tapi lagi2, masing2 orang punya pendapat masing2. Tidak akan ada yang nekad melarang.
Tidak semua yang kita miliki itu harus diumumkan. Tidak semua yang kita lakukan itu harus diberitahukan. Tidak semua.
Karena ketahuilah sebuah rahasia kecil, orang2 yang suka mengumumkan ini itu, maka sebenarnya itulah yang dia miliki.
Sebaliknya, jadilah seperti gunung es di dalam lautan, yang terlihat hanya pucuk kecilnya saja, sedangkan di bawah, di dalam laut, tersimpan erat bagian raksasanya.
Puisi cukup adalah cukup
26 November 2013 pukul 18:36
Ketika sebutir buah mangga dibiarkan terlalu matang
Bukan semakin manis buah yang diperoleh
Melainkan busuk dan berulatlah dia
Ketika satu hamparan sawah dibiarkan terlalu matang
Bukan butir padi gemuk yang didapat
Melainkan gugur ke tanah butir2nya
Ketika kita masak mie rebus, terlalu matang
Bukan mie lezat yang terhidang
Melainkan mie besar-besar atau malah hancur
Cukup adalah cukup, Kawan
Ketika kita terlalu bijak, maka bukan kebijakan yang hadir
Berubah jadi busuk dan merusak
Cukup adalah cukup, Teman
Dalam situasi yang tepat, takaran yang jitu
Prinsip ini justeru bisa menyelamatkan kita dari situasi berlama-lama
Menyakiti diri sendiri, tidak bergerak maju2
Cukup adalah cukup, my man
Dalam situasi tertentu, kondisi terbatas
Prinsip ini justeru amat berguna
Agar kita bisa menutup lembaran lama
Untuk memulai halaman baru
Dan berharap, semoga yang terbaik akan menggantikan
Pun ketenteraman dan kedamaian akan tiba
Sungguh,
Ketika sebutir buah mangga dibiarkan terlalu matang
Bukan semakin manis buah yang diperoleh
Melainkan busuk dan berulatlah dia
Baju spesial, paling berharga, tidak pernah dipajang2 di depan toko, siapapun bisa pegang dan coba, bahkan dijual obral, diskon besar2an, yang kemudian jadi barang second, loakan.
Baju paling spesial, paling berharga, selalu dibuat, diukur, dijahit pas dan khusus sekali untuk seseorang. Yang setelah dimiliki, akan dijaga agar tidak kotor, lecek, serta kusam.
Maka, demikian juga perasaan dan diri kita sendiri. Apakah kita "baju murah" yang bisa dipegang2, dicoba, didiskon, jadi barang second? Atau kita adalah baju spesialnya?
Kalau kita suka dengan seseorang, maka bukan berarti itu jadi alasan untuk semuanya. Termasuk percaya mati2an, ikut saja apapun. Berbahaya sekali kalau hanya karena kata “sayang”, kita jadi menutup mata atas hal2 merusak dan hal2 lain yang jauh lebih penting dibanding rasa sayang itu. Karena kabar buruknya, bahkan kita tidak tahu apakah sayang itu benar2 sayang atau karena kita tidak bisa mengendalikan perasaan.
Gunakan akal sehat, pakai rambu2 agama, dengarkan nasehat keluarga atau teman baik, itu akan menuntun kita.
*Penyakit aduh sakitnya
Bagaimana memahami penyakit hati masyarakat hari ini? Mudah, dicek saja lewat jejaring sosial, website berita, lantas lakukan mapping (cocokkan) dengan rumus berikut ini:
Dalam masyarakat yang sakit, setiap kali ada kabar gembira, maka ada tiga level reaksinya:
Ketika orang2 tidak terima atas kesuksesan musuh atau kompetitornya, kemudian dia menjelek2an, komen negatif, meremehkan; maka itu level paling rendahnya. Juga bisa dibilang level “normalnya”. Masyarakat yang “normal” sakitnya. Manusiawi, namanya juga musuh, wajar saja kita tidak terima.
Naik lagi ke level berikutnya adalah ketika orang2 tidak terima atas kesuksesan atau kabar baik dari orang yang tidak dikenalnya sama sekali, lantas komen jelek, negatif, meremehkan penuh prasangka. Ini kondisi masyarakat sakit medium.
Naik ke level tertingginya adalah ketika orang2 justeru tidak terima atas kesuksesan/kabar baik dari sahabat/orang yang dikenalnya. Iri hati, lantas komen negatif dikeluarkan. Inilah masyarakat sakit serius.
Rumus ini efektif sekali untuk mengukur di mana posisi kita. Apakah kita juga punya masalah, ada penyakit di hati? Setiap mendengar kabar baik, kesuksesan orang lain, maka seperti apa reaksi kita? Mungkin kita tidak menumpahkannya lewat komen2, disimpan dalam hati, tapi dia tetap sesuatu. Atau mungkin kita pura2 bilang ikut bahagia, tapi hati terasa kesal, maka dia tetap sesuatu, tidak bisa dibohongi.
Jangan sedih jika kita masih suka iri hati, masih punya bisul di hati, namanya juga manusia. Ketahuilah, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik dan benar2 tulus. Karena kabar baiknya, sekali kita bersedia mengendalikan hati kita, secara otomatis, kita akan berkesempatan naik ke level yang berbeda. Karena juga ada tiga level di sisi sebaliknya, betapa sehatnya sebuah masyarakat. Yaitu:
Jika kita tulus merasa senang mendengar teman baik/sahabat /orang yang kita kenal menerima kesuksesan atau kabar baik, maka itu sungguh ciri masyarakat yang sehat.
Naik lagi ke level berikutnya, saat orang2 merasa ikut bahagia dengan tulus atas kesuksesan/kabar baik dari orang2 yang sama sekali dia tidak kenal, maka itu jelas ciri masyarakat yang lebih sehat lagi, segar bugar.
Dan terakhir, ciri masyarakat paling sehat adalah, saat orang2 juga ikut bersuka cita dengan tulus ketika musuhnya sekalipun sukses memperoleh kabar baik. Inilah ciri masyarakat paling sehat, masyarakat dengan ahklak yang baik.
Mari kita pikirkan hal ini. Mungkin menarik untuk melakukan refleksi seperti apa reaksi kita selama ini saat mendengar kabar gembira orang2 di sekitar kita
*Sajak menjagamu
Akan kurawat kau dalam diam
Agar tumbuh besar penuh pemahaman
Akan kurawat kau dalam hening
Agar tumbuh tinggi penuh kesabaran
Akan kurawat kau dalam senyap
Agar tumbuh kokoh penuh keihklasan
Sungguh akan kurawat kau
Agar tidak ada yang menyakitinya
Pun kalau memang harus disakiti
Kau dan aku tahu apa yang terbaik dilakukan
Pun kalau memang harus gugur daunnya
Kau dan aku tahu besok lusa akan kembali rindang
Akan kurawat kau dengan baik
Duhai ‘perasaanku’
Agar kita bisa melewati semua kisah
Cerita sedih maupun gembira
Karena kau adalah milikku satu-satunya
Dan setiap orang memiliki “perasaannya” masing2.
Kan kujaga ‘perasaanku’ sebaik2nya.
Saat kita membantah, menolak begitu kerasnya sebuah nasehat, justeru kita sedang menunjukkan betapa sepakatnya kita atas nasehat tersebut.
Tapi belum sekarang memang. Besok lusa setelah dipikirkan. Bisa ketawa nyengir malah mengingatnya.
Barangsiapa yang rajin berdoa di dunia nyata, maka dia tidak perlu lg berdoa di dunia maya.
Barangsiapa yang menyibukkan diri beribadah di dunia nyata, maka dia tidak perlu lg sibuk menyebut2 ibadah tsb di dunia maya.
Rasa sabar bahkan bisa membuat perjalanan menjadi lebih cepat.
Ajaib, kan? Padahal kita selama ini berpikir sabar itu justeru hanya soal menunggu dan pasif saja.
Banyak sekali ternyata cabang ilmu sabar ini.
Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.
Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”
“Sejatinya rasa suka tidak perlu DIUMBAR-UMBAR, apalagi kau PAMER-PAMERKAN di hadapan banyak orang. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu."
*Sajak Buat Apa?
Kau tidak perlu memaksakan diri menyukaiku
Buat apa?
Kita hidup dalam dua kehidupan yang berbeda.
Setiap manusia memiliki kehidupan masing-masing
Tidak bertemu di satu titik kehidupan tidak masalah.
Kau sungguh tidak perlu memaksakan diri menyukaiku
Buat apa?
Karena kalaupun kau tidak suka denganku
Itu tidak akan mengurangi sedikitpun rasa suka padamu
Tidak akan mengubah fakta tersebut
Biarlah kutelan dalam diam semua rasa itu
Hingga potongan jawaban misteri terbesarnya tiba
Kau tidak perlu memaksakan diri menyukaiku
Buat apa?
Ini sungguh kisah yang berbeda
Karena bahkan, disampaikan atau tidak disampaikan
Itu tetap sebuah perasaan
Tidak akan berkurang sedikit pun
Jika memang dia sedemikian adanya.
Akan kutunggu dengan cara terbaik
Agar seluruh kisah ini tetap baik
Boleh jadi kita telah kehilangan sesuatu, jauh2 hari sebelum sesuatu itu benar2 pergi, menghilang dari kehidupan kita.
Dan boleh jadi, kitalah yang menyebabkan hilangnya sesuatu itu, karena tidak peduli, tidak merasa penting.
Jika seseorang menyukai dan peduli pada kita, maka apapun yang kita katakan, termasuk saat melakukan kesalahan, dia tetap paham dan menerimanya.
Tapi jika seseorang sudah membenci kita, maka, tidak ada yang bisa kita katakan atau lakukan kemudian membuatnya senang dan sependapat.
Jadi lebih baik, fokus saja pada yang peduli.
*Tere Liye
Tentu saja sering ngintipin timeline, dinding akun orang lain itu tidak selalu otomatis bisa dibilang stalking, kepo. Boleh jadi itu termasuk strategi intelijen demi masa depan. Termasuk setidaknya buat menghibur hati.
Asal jangan berlebihan saja, sampai menyadap HP bapak ibunya, nanti bisa bikin masalah serius antar negara.
Kita bisa hidup bahagia dengan orang yang tidak sempurna, sepanjang kita mau menerima kekurangan dan kelebihannya. Tapi kita tidak akan pernah bisa berbahagia, meskipun punya seseorang yang amat sempurna, tapi kita terus merasa kurang dan kurang.
NasehaCara terbaik menghukum orang adalah diamkan saja, tidak usah dipedulikan lagi. Itu menyakitkan sekali.
Maka, bersyukurlah jika orang masih marah, menegur, menyindir, dsbgnya. Karena sekali kita dianggap angin lalu, kita seperti 'dihapus' dari muka bumi.
t orang tua yang biasanya disampaikan setiap anak2nya mau menikah ini amat lembut.
Tentu berbeda antara menulis doa: "Ya Allah, semoga teman2 baik saya punya mobil mewah dan rumah gedongan." dengan "Ya Allah, semoga saya punya mobil mewah dan rumah gedongan."
Yang satu mendoakan, yang satu berdoa diri sendiri. Yang satu, saat diaminkan begitu banyak orang, menjadi sesuatu. Yang satu lagi, jika berharap diaminkan orang, juga menjadi sesuatu lainnya.
Jika kita memang ingin berdoa di jejaring sosial ini, maka saran baiknya: geser menjadi mendoakan orang lain saja, sementara doa terbaik untuk kita sendiri, simpan saat habis shalat, di malam lengang, di waktu2 spesial dijanjikan.
Nah, terakhir, akan sangat berbeda jika kita malah menulis: "Ya Allah, semoga saya diberi mobil mewah dan rumah gedongan. Tulis amin jika ini doa kalian juga dan jangan lupa di-like."
Sepertinya terasa berbeda sekali di kerongkongan. Tapi lagi2, masing2 orang punya pendapat masing2. Tidak akan ada yang nekad melarang.
Tidak semua yang kita miliki itu harus diumumkan. Tidak semua yang kita lakukan itu harus diberitahukan. Tidak semua.
Karena ketahuilah sebuah rahasia kecil, orang2 yang suka mengumumkan ini itu, maka sebenarnya itulah yang dia miliki.
Sebaliknya, jadilah seperti gunung es di dalam lautan, yang terlihat hanya pucuk kecilnya saja, sedangkan di bawah, di dalam laut, tersimpan erat bagian raksasanya.
Puisi cukup adalah cukup
26 November 2013 pukul 18:36
Ketika sebutir buah mangga dibiarkan terlalu matang
Bukan semakin manis buah yang diperoleh
Melainkan busuk dan berulatlah dia
Ketika satu hamparan sawah dibiarkan terlalu matang
Bukan butir padi gemuk yang didapat
Melainkan gugur ke tanah butir2nya
Ketika kita masak mie rebus, terlalu matang
Bukan mie lezat yang terhidang
Melainkan mie besar-besar atau malah hancur
Cukup adalah cukup, Kawan
Ketika kita terlalu bijak, maka bukan kebijakan yang hadir
Berubah jadi busuk dan merusak
Cukup adalah cukup, Teman
Dalam situasi yang tepat, takaran yang jitu
Prinsip ini justeru bisa menyelamatkan kita dari situasi berlama-lama
Menyakiti diri sendiri, tidak bergerak maju2
Cukup adalah cukup, my man
Dalam situasi tertentu, kondisi terbatas
Prinsip ini justeru amat berguna
Agar kita bisa menutup lembaran lama
Untuk memulai halaman baru
Dan berharap, semoga yang terbaik akan menggantikan
Pun ketenteraman dan kedamaian akan tiba
Sungguh,
Ketika sebutir buah mangga dibiarkan terlalu matang
Bukan semakin manis buah yang diperoleh
Melainkan busuk dan berulatlah dia
Baju spesial, paling berharga, tidak pernah dipajang2 di depan toko, siapapun bisa pegang dan coba, bahkan dijual obral, diskon besar2an, yang kemudian jadi barang second, loakan.
Baju paling spesial, paling berharga, selalu dibuat, diukur, dijahit pas dan khusus sekali untuk seseorang. Yang setelah dimiliki, akan dijaga agar tidak kotor, lecek, serta kusam.
Maka, demikian juga perasaan dan diri kita sendiri. Apakah kita "baju murah" yang bisa dipegang2, dicoba, didiskon, jadi barang second? Atau kita adalah baju spesialnya?
Kalau kita suka dengan seseorang, maka bukan berarti itu jadi alasan untuk semuanya. Termasuk percaya mati2an, ikut saja apapun. Berbahaya sekali kalau hanya karena kata “sayang”, kita jadi menutup mata atas hal2 merusak dan hal2 lain yang jauh lebih penting dibanding rasa sayang itu. Karena kabar buruknya, bahkan kita tidak tahu apakah sayang itu benar2 sayang atau karena kita tidak bisa mengendalikan perasaan.
Gunakan akal sehat, pakai rambu2 agama, dengarkan nasehat keluarga atau teman baik, itu akan menuntun kita.
*Penyakit aduh sakitnya
Bagaimana memahami penyakit hati masyarakat hari ini? Mudah, dicek saja lewat jejaring sosial, website berita, lantas lakukan mapping (cocokkan) dengan rumus berikut ini:
Dalam masyarakat yang sakit, setiap kali ada kabar gembira, maka ada tiga level reaksinya:
Ketika orang2 tidak terima atas kesuksesan musuh atau kompetitornya, kemudian dia menjelek2an, komen negatif, meremehkan; maka itu level paling rendahnya. Juga bisa dibilang level “normalnya”. Masyarakat yang “normal” sakitnya. Manusiawi, namanya juga musuh, wajar saja kita tidak terima.
Naik lagi ke level berikutnya adalah ketika orang2 tidak terima atas kesuksesan atau kabar baik dari orang yang tidak dikenalnya sama sekali, lantas komen jelek, negatif, meremehkan penuh prasangka. Ini kondisi masyarakat sakit medium.
Naik ke level tertingginya adalah ketika orang2 justeru tidak terima atas kesuksesan/kabar baik dari sahabat/orang yang dikenalnya. Iri hati, lantas komen negatif dikeluarkan. Inilah masyarakat sakit serius.
Rumus ini efektif sekali untuk mengukur di mana posisi kita. Apakah kita juga punya masalah, ada penyakit di hati? Setiap mendengar kabar baik, kesuksesan orang lain, maka seperti apa reaksi kita? Mungkin kita tidak menumpahkannya lewat komen2, disimpan dalam hati, tapi dia tetap sesuatu. Atau mungkin kita pura2 bilang ikut bahagia, tapi hati terasa kesal, maka dia tetap sesuatu, tidak bisa dibohongi.
Jangan sedih jika kita masih suka iri hati, masih punya bisul di hati, namanya juga manusia. Ketahuilah, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik dan benar2 tulus. Karena kabar baiknya, sekali kita bersedia mengendalikan hati kita, secara otomatis, kita akan berkesempatan naik ke level yang berbeda. Karena juga ada tiga level di sisi sebaliknya, betapa sehatnya sebuah masyarakat. Yaitu:
Jika kita tulus merasa senang mendengar teman baik/sahabat /orang yang kita kenal menerima kesuksesan atau kabar baik, maka itu sungguh ciri masyarakat yang sehat.
Naik lagi ke level berikutnya, saat orang2 merasa ikut bahagia dengan tulus atas kesuksesan/kabar baik dari orang2 yang sama sekali dia tidak kenal, maka itu jelas ciri masyarakat yang lebih sehat lagi, segar bugar.
Dan terakhir, ciri masyarakat paling sehat adalah, saat orang2 juga ikut bersuka cita dengan tulus ketika musuhnya sekalipun sukses memperoleh kabar baik. Inilah ciri masyarakat paling sehat, masyarakat dengan ahklak yang baik.
Mari kita pikirkan hal ini. Mungkin menarik untuk melakukan refleksi seperti apa reaksi kita selama ini saat mendengar kabar gembira orang2 di sekitar kita
*Sajak menjagamu
Akan kurawat kau dalam diam
Agar tumbuh besar penuh pemahaman
Akan kurawat kau dalam hening
Agar tumbuh tinggi penuh kesabaran
Akan kurawat kau dalam senyap
Agar tumbuh kokoh penuh keihklasan
Sungguh akan kurawat kau
Agar tidak ada yang menyakitinya
Pun kalau memang harus disakiti
Kau dan aku tahu apa yang terbaik dilakukan
Pun kalau memang harus gugur daunnya
Kau dan aku tahu besok lusa akan kembali rindang
Akan kurawat kau dengan baik
Duhai ‘perasaanku’
Agar kita bisa melewati semua kisah
Cerita sedih maupun gembira
Karena kau adalah milikku satu-satunya
Dan setiap orang memiliki “perasaannya” masing2.
Kan kujaga ‘perasaanku’ sebaik2nya.
Saat kita membantah, menolak begitu kerasnya sebuah nasehat, justeru kita sedang menunjukkan betapa sepakatnya kita atas nasehat tersebut.
Tapi belum sekarang memang. Besok lusa setelah dipikirkan. Bisa ketawa nyengir malah mengingatnya.
Barangsiapa yang rajin berdoa di dunia nyata, maka dia tidak perlu lg berdoa di dunia maya.
Barangsiapa yang menyibukkan diri beribadah di dunia nyata, maka dia tidak perlu lg sibuk menyebut2 ibadah tsb di dunia maya.
Rasa sabar bahkan bisa membuat perjalanan menjadi lebih cepat.
Ajaib, kan? Padahal kita selama ini berpikir sabar itu justeru hanya soal menunggu dan pasif saja.
Banyak sekali ternyata cabang ilmu sabar ini.
Categories:
kata bijak